PROPOSAL SKIPSI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENELITIAN
E. BATASAN MASALAH
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Di abad ini, tantangan yang amat besar yang harus kita hadapi adalah tantangan globalisasi yang sedang melanda dunia, maka haruslah ada minimal satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan yang dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional yang setara dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hingga muncullah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, melalui proses pendidikan.
Demokratisasi penyeleggaraan pendidikan, harus mendorong pemberdayaan masyarakat dengan memperluas partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (UU Sisdiknas, pasal 54 ayat 1). Sebab pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga.
Peran pemerintah adalah dengan membentuk suatu badan hokum pendidikan, sehingga semua penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan formal baik yang didirikan oleh pemerintah maupun masyarakat, harus berbentuk badan hukum pendidikan (UU Sisdiknas, pasal 53 ayat 1). Badan hukum pendidikan yang dimaksud akan berfungsi memberikan pelayanan kepada peserta didik (UU Sisdiknas, pasal 53 ayat 32).
Masyarakat tersebut dapat berperan sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan (UU Sisdiknas, pasal 54 ayat 2). Sedangkan pada keluarga berperan sebagai tempat untuk memperoleh pendidikan yang utama, serta pembentukan awal dari kepribadian (karakter) dan pola belajar anak, maka pentingnya pendidikan keluarga itu diperoleh sebelum pendidikan yang lain.
Hal ini tergambar dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas, pasal 4).
Kemajuan bidang pendidikan mencapai puncaknya dengan timbulnya konsepsi pendidikan baru yang berbeda dengan konsep pendidikan yang sudah ada dan telah lama berlangsung. Dalam konsepsi tersebut diketengahkan tentang pendidikan luar sekolah yang merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan.
Sesuai dengan paradigma baru dalam Undang-undang Sisdiknas yang disahkan oleh DPR-RI tanggal 11 Juni 2003, yaitu perubahan mendasar mengenai jalur pendidikan yaitu mengubah jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah, menjadi tiga jalur, yaitu jalur pendidikan fomal, nonformal, dan informal (UU Sisdiknas, pasal 13).
Kemudian berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi dalam abad ini, dengan bentuk isi dan penyelenggaraan program pendidikan yang beraneka ragam dari tingkat yang sederhana sampai tingkat yang kompleks. Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan tersebut dapat dimaklumi oleh karena :
a. Adanya penemuan-penemuan baru dalam dunia pendidikan.
b. Institusi-institusi penyeleggara pendidikan yang demikian efektif dan efisien.
c. Pengaruh berbagai faktor yang menunjang proses pendidikan.
Sedangkan dalam asas pendidikan yang selama ini sebagai titik tolak bagi penyelenggaran pendidikan, yaitu Asas pendidikan yang dikenal dengan istilah “long life education” atau pendidikan seumur hidup.
Dari ketiga jalur (formal, nonformal, informal) tersebut, memang dianut dalam sistem pendidikan nasional sebelum berlakunya Undang-undang No. 2 tahun 1989. Akan tetapi terdapat berbagai faktor yang pada hakeketnya pendidikan formal kurang bisa memenuhi, sehingga perlu mengadakan jenis kegiatan pendidikan lain yang disebut pendidikan informal dan nonformal. Faktor-faktor tersebut meliputi :
a. Kemajuan teknologi yang antara lain membuat usangnya hasil penemuan masa lampau, sekaligus dengan itu membuka prespektifprespektif baru.
b. Lahirnya persoalan-persoalan baru terhadap apa orang harus belajar tentang bagaimana menghadapinya, soal-soal mana tidak dapat diserahkan hanya kepada lembaga pendidikan lembaga formal.
c. Keinginan untuk maju, untuk belajar yang kian meningkat. Mereka yang ingin menambah atau memperbaiki pengetahuan serta kecakapannya.
d. Perkembangan alat-alat komunikasi yang memperluas kemungkinan untuk mengikuti pendidikan apa tanpa datang kesekolah atau yang memperluas kemungkinan untuk menyajikan program pendidikan secara sistematis tanpa mengumpulkan orang yang bersangkutan dalam suatu tempat yang sama.
e. Terbentuknya bermacam-macam organisasi sosial yang menambah medan pendidikan serta kebutuhan akan penyelenggaraan pendidikan informal dan nonformal yaitu karena keluarga dan organisasiorganisasi tersebut banyak yang ingin menambah pengetahuan serta keterampilan anggotanya lewat forum pendidikan dalam keluarga/organisasi yang dapat diandalkan.
Dari sinilah perlu adanya pertanyaan yang mendasar, yaitu Mengapa Perlunya Homeschooling?, Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya dapat berkembang optimal dan merasa nyaman melalui masa pendidikannya. Namun pada kenyataannya, ada orang tua merasa lembaga pendidikan yang ada tak lagi dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Jika orang tua dihadapkan pada situasi itu, menurut pakar psikologi pendidikan anak Dr Reni Akbar-Hawadi Psi, maka homeschooling dapat menjadi salah satu pilihan. “Homeschooling memungkinkan anak memperoleh kurikulum spesifik dan teknik mengajar yang sesuai dengan kebutuhan anak,”. Homeschooling juga dapat menjadi jawaban pilihan program pendidikan yang fleksibel dan sesuai dengan minat pendidikan anak.
Adapun homeschooling termasuk sistem pendidikan yang disebut pendidikan informal. Pendidikan ini sama sekali tidak terorganisasi secara struktural, tidak terdapat penjejangan kronologis, tidak mengenal adanya kredensials, lebih merupakan hasil pengalaman belajar individual mandiri dan pendidikannya tidak terjadi didalam “medan interaksi belajar mengajar buatan” sebagaimana pada pendidikan formal dan nonformal. Contoh konkritnya seperti pendidikan yang terjadi sebagai sebab akibat wajar dari fungsi keluarga, media massa, acara-acara keagamaan, pertunjukkan-pertunjukkan seni atau hiburan, kampanye-kampanye, partisipan dalam kelompok-kelompok organisasi.
Maka para orang tua yang tidak puas dengan sistem pendidikan yang diterapkan sekolah, akhirnya mencari alternatif diluar sekolah formal. Salah satu metode pendidikan atau pun model pendidikan yang sudah banyak diterapkan diluar negeri, dan mulai banyak dilirik para orang tua di Indonesia adalah homeschooling.
Homeschooling merupakan pendidikan berbasis rumah, yang memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masingmasing. Dr. Howard Gardner, seorang peneliti di Harvard University dengan bukunya Frames of Mind (1983), sudah menyampaikan teorinya tentang Mutiple Intelligence atau kecerdasan majemuk. Ada 8 kecerdasan yang kemungkinan akan bertambah kerena beliau terus membuat kajian dan penelitian secara intensif, Yaitu :
a. Kecerdasan Linguistik, kemampuan untuk menggunakan kata-kata baik secara lisan maupun tertulis. Seperti yang dilakukan para presenter, orator, sastrawan, jurnalis, dan lain-lain.
b. Kecerdasan Matematis-Logis, kemampuan menggunakan angka dan penalaran secara logis. Seperti yang dilakukan para akuntan, ahli matematika, ilmuwan, peneliti, programmer, dan lain-lain.
c. Kecerdasan Spasial, kemampuan membuat visualisasi secara akurat bentuk, bangun, ruang dan warna. Contohnya pematung, arsitek, pilot, dan lain-lain.
d. Kecerdasan Kinestetis, kemahiran dalam menggunakan anggota tubuh, seperti para penari, atlet, aktor, dan lain-lain.
e. Kecerdasan Musikal, kemampuan yang berhubungan dengan bunyi nada atau suara seperti para pemusik, penyanyi, pencipta lagu, dan lain-lain.
f. Kecerdasan Interpersonal, kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain seperti para negosiator, politikus, diplomat, tenaga pemasaran, dan lain-lain.
g. Kecerdasan Intrapersonal, kemampuan untuk memahami diri sendiri. Sebagaimana para konsultan, psikolog, rohaniwan, pendidik, dan lain-lain.
h. Kecerdasan Naturalis, kemampuan yang berhubungan dengan alam seperti pecinta alam, aktivis lingkungan, peneliti, dan lain-lain.
Teori multiple intelligent atau kecerdasan majemuk telah membuka mata kita bahwa ada begitu banyak cara untuk membuat anak-anak memahami suatu materi pelajaran. Kita harus menyadari bahwa anak-anak ini mungkin bisa belajar dengan sangat baik dengan cara mereka sendiri.
Pada umumnya pendidik, orang tua, dan lain-lain. Hanya peduli pada kemampuan dalam arti yang paling tradisional dan akademis yaitu membaca, menulis, mengeja, IPA, IPS dan matematika dalam bentuk buku pelajaran dan lembar latihan standar serta belajar dengan cara duduk manis di dalam kelas dan mendengarkan guru berceramah. Padahal ada begitu banyak potensi dalam diri anak yang tidak bisa dinilai hanya dengan cara-cara seperti itu. Hal-hal seperti inilah yang mendasari banyak orang tua untuk meng-homeschooling anak-anak mereka. Homeschooling memberi banyak keleluasaan bagi anak-anak untuk “menikmati” proses belajar tanpa harus merasa tertekan dengan beban-beban yang terkondisi oleh target kurikulum. Seorang homeschooler bisa saja hanya meluangkan beberapa menit mengerjakan lembar kerja matematika tetapi bias berbulan-bulan asyik meneliti satu spesies serangga. Hal ini tentu saja tidak mungkin terjadi di sekolah formal.
Sebagian orang tua pun tidak harus menjadi orang yang tahu segalanya untuk bias meng-home-school anaknya. Bahkan yang terpenting dalam homeschooling adalah penanaman sikap mental belajar kepada anak-anak sehingga mereka biasa belajar dengan cara mereka sendiri, serta belajar apa saja, dimana saja, dan dari siapa saja. Hal-hal yang sangat minim bisa dilakukan oleh siswa sekolah formal karena kesibukan mereka mengerjakan PR, belajar untuk ulangan, les dan sebagainya, yang belum tentu mereka nikmati secara aktif dari dalam hati mereka.
Bagi kebanyakan orang, bersekolah di rumah masih dianggap aneh. Sekolah itu harus formal di sekolah. Namun, ada juga orang tua yang merasa lebih nyaman bila menerapkan homeschooling bagi anak-anaknya. Selain lebih aman, orang tua bisa lebih intensif membantu tumbuh kembang anak.
Namun, ada pula sejumlah orang tua yang tidak mau di pusingkan dengan urusan tersebut. Mereka merasa lebih nyaman menerapkan sistem belajar di rumah, atau dengan istilah homeschooling, karena pada intinya pendidikan berasal dari rumah. Begitulah dasar pemikiran mereka.
Sehingga homeschooling saat ini mulai menjadi salah satu pilihan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pilihan ini terutama disebabkan oleh adanya pandangan atau penilaian orang tua tentang kesesuaian bagi anak-anaknya. Bisa juga karena orang tua merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya dirumah. Ini banyak dilakukan dikota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri. Oleh karenanya psikolog pendidikan dari UI, Wuri Prasetyawati, MPsi., pun berpendapat, " kegiatan belajar yang dialihkan dari sekolah ke rumah merupakan bentuk ketidakpuasan orang tua terhadap sistem pendidikan. Para orang tua, lantas memutuskan untuk membuat pendidikan alternatif bagi anakanaknya. Mereka juga melihat, belajar tidak menjadi sesuatu yang menyenangkan lagi bagi anak-anaknya. Malah sepertinya jadi siksaan." Homeschooling dapat menjadi jawaban pilihan program pendidikan yang fleksibel dan sesuai dengan minat pendidikan anak.
Proses pengajaran dalam belajar mengajar itu adalah kompleks, yang melibatkan komponen internal dan eksternal. Dua komponen tersebut berproses dalam satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Komponen internal terdiri atas tujuan, materi pelajaran, metode, media, dan evaluasi. Sedangkan komponen eksternal mencakup guru, orang tua dan masyarakat sekelilingnya. Demikian pula, seorang anak belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan dan citacita. Seorang ahli dalam psikologi pendidikan menyebutkan kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan ,sikap dan perilaku individu belajar. Dalam hal ini setiap anak memiliki kebutuhan yang berlainan dalam hal minat dan perhatian, kemauan dan citacitanya. Ada yang mau belajar jika telah dimotivasi untuk belajar.
Motivasi merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian prestasi belajar. Anak yang memiliki motivasi belajar tinggi akan mudah diarahkan untuk mencapai prestasi belajar. Motivasi dapat dibangkitkan dari dalam diri anak (motivasi intrinsik) dan dapat pula dibangkitkan dari luar (motivasi ekstrinsik). Motivasi dalam diri anak akan tumbuh apabila anak tahu dan menyadari bahwa yang akan dipelajari bermakna atau bermanfaat. Ada dua potensi yang dapat membangkitkan motivasi belajar yang efektif, yaitu keingintahuan dan keyakinan anak akan kemampuan dirinya. Pada umumnya anak memiliki rasa ingin tahu dan memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya. Karena itu orang tua (pengajar) perlu harus dapat membangkitkan motivasi belajar anak.
Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan untuk membangkitkan motivasi belajar anak, yaitu :
a. Kebermaknaan ; anak akan termotivasi untuk belajar jika kegiatan dan materi belajar diketahui kegunan/manfaatnya dan dirasakan bermakna bagi dirinya. Pelajaran dirasakan bermakna apabila anak menemukan adanya keterkaitan dengan pengalaman, bakat, minat, pengetahuan, tugas dan tata nilai dalam kehidupan sehari-hari anak.
b. Kontinuitas dan Integritas ; penataan organisasi isi materi tidak terjadi tumpang tindih dengan memperhatikan kontinuitas dan integritas materi pada setiap level dan jenjang pendidikan.
c. Model atau Figure bisa juga disebut Tokoh ; anak akan menghayati, menyadari, dan mencontoh pengalaman nilai-nilai dengan baik, jika orang tua (pengajar) memberi contoh dan model untuk dilihat dan ditiru.
d. Komunikasi Terbuka ; anak akan termotivasi untuk belajar jika orang tua (pengajar) di awal materi belajar menyampaikan secara terbuka struktur atau kontrak belajar sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik belajar anak. Sehingga kesan pembelajaran dapat dievaluasi.
e. Tugas Menyenangkan dan yang Menantang ; anak akan termotivasi untuk belajar jika mereka disediakan materi atau pengalaman dan tugas belajar yang menyenangkan sesuai tingkat kemampuan berpikirnya. Konsentrasi juga dapat bertambah bila anak menghadapi tugas yang menantang dan sedikit melebihi kemampuannya. Sebaliknya bila tugas kurang dari kemampuannya akan terjadi kebosanan.
f. Latihan yang tepat dan aktif ; anak akan dapat menguasai materi pembelajaran dengan efektif jika kegiatan belajar mengajar memberikan kegiatan latihan sesuai kemampuan anak dan anak dapat berperan aktif untuk mencapai kompetensi.
g. Penilaian tugas ; anak akan memperoleh pencapaian belajar yang efektif jika tugas dibagikan dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang dengan frekuaensi pengulangan yang tinggi.
h. Kondisi dan Konsekuensi yang menyenangkan ; anak akan belajar dan terus belajar jika kondisi pembelajaran dibuat menyenangkan, nyaman, dan jauh dari perilaku yang meyakitkan perasaan anak. Belajar melibatkan perasaan dan suasana belajar yang menyenangkan sangat diperlukan, karena otak tidak akan bekerja optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan. Perasaan senang biasanya akan muncul bila belajar diwujudkan dalam bentuk permainan khususnya pada pendidikan usia dini. Selanjutnya bermain dapat dikembangkan menjadi eksperimen yang tinggi.
i. Keragaman Strategi atau Metode ; anak akan dapat pengalaman belajar apabila anak diberi kesempatan untuk memilih dan menggunakan berbagai jenis strategi atau metode belajar. Pengalaman belajar tidak hanya berorientasi pada buku teks, tetapi juga dapat dikemas dalam berbagai kegiatan praktis seperti proyek, simulasi, drama, dan/atau penelitian atau pengujian dan lain-lain.
j. Mengembangkan Beragam Kemampuan ; anak akan belajar secara optimal jika pengalaman belajar yang disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan, seperti kemampuan beragama, logis, matematis, bahasa, musik, kinestetik, dan kemampuan inter maupun intra personal. Perlunya menyediakan berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan kecerdasan itu berkembang sehingga anak dengan berbagai kecerdasan yang berbeda dapat terlayani secara optimal.
k. Melibatkan Sebanyak Mungkin Indera ; anak akan menguasai hasil belajar dengan optimal, jika dimungkinkan menggunakan sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan materi belajar.
l. Keseimbangan pengaturan pengalaman belajar anak akan menguasai materi belajar jika pengalaman belajar diatur sedemikian rupa sehingga anak mempunyai kesempatan untuk membuat sesuatu refleksi penghayatan, mengungkapan dan mengevaluasi apa yang dipelajari.
Sebab pendidikan selama ini hanya dilihat sebagai satu alat yang dapat mendidik anak dengan baik, sama halnya dengan seseorang berpakaian yang selalu berganti-ganti kadang merah, hitam serta putih. Oleh sebab itu dari terlaksananya sistem pendidikan ini, diharapkan mampu dalam meningkatkan motivasi belajar anak yang sebagai subjek pada terlaksananya pendidikan. Dengan demikian motivasi belajar pun memegang peranan penting dalam memberikan gairah dan semangat dalam belajar, sehingga anak yang bermotivasi kuat memiliki energi yang banyak pula untuk melakukan kegiatan belajar.
Maka dari latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Model Homeschooling Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Anak".
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon?
2. Apakah faktor penunjang pada implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon?
3. Apakah faktor penghambat pada implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon?
4. Bagaimanakah upaya untuk mengatasi hambatan pada implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dalam meningkatkan motivasi belajar anak yang dilaksanakan olah HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar anak pada HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon.
2. Untuk mengetahui faktor penunjang pada implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar anak pada HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon?
3. Untuk mengetahui faktor penghambat pada implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar anak pada HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon.
4. Untuk mendeskripsikan upaya mengatasi hambatan pada implementasi model homeschooling dalam meningkatkan motivasi belajar anak yang dilaksanakan oleh HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon.
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat penelitian ini dilakukan adalah :
1. Aspek teoritis
a. Sebagai bahan pustaka bagi pengembangan pengetahuan dalam bidang pendidikan, khususnya dalam bidang psikologi pendidikan dan psikologi keluarga.
b. Sebagai bahan kajian dan informasi pendahuluan bagi penelitian dimasa datang, yang berkaitan dengan masalah ini.
2. Aspek praktis
a. Bagi lembaga pendidikan dapat membantu dalam mencari faktor-faktor yang dapat dijadikan dasar pertimbangan pembuatan kebijakan dalam peningkatan pelayanan yang efektif dan efisien yang lebih bermanfaat untuk para orang tua, sehingga dapat menetapkan pilihan, khususnya dalam pendidikan bagi anak-anaknya.
b. Sebagai bahan informasi dalam pelaksanaan peningkatan kualitas dan mutu pelayanan untuk memberi nilai tambah dan sebagai bahan pertimbangan guna mempengaruhi dalam pelaksanaan pendidikan
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka kami membatasim masalah dalam lingkup sebagai berikut :
1. Penelitian ini difokuskan hanya pada tujuan pembelajaran model homeschooling yang dilaksanakan oleh HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon dalam meningkatkan motivasi belajar anak.
2. Penelitain ini difokuskan pada materi, metode, serta sistem evaluasi model homeschooling yang dilaksanakan oleh Asosiasi HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon dalam meningkatkan motivasi belajar anak.
3. Penelitian ini difokuskan pada faktor penunjang dan penghambatm dalam pelaksanaan model homeschooling yang dilaksanakan oleh HSKS (Home Schooling Kak Seto) Cirebon dalam meningkatkan motivasi belajar anak.
Komentar
Posting Komentar